
Tahun 2012 nanti Pekan Olahraga Nasional akan diselenggarakan di
Pekanbaru Riau. Sebelum kita merayakan pesta olahraga nasional ini alangkah baiknya kita menelisik kebelakang, menapaktilas
Sejarah PON. Dimulai dari terbentuknya PON, Pengurus PON Pertamakali, dan di Kota mana saja
PON pernah diselenggarakan sebelum PON Riau 2012 nanti di helat di negeri Melayu ini.
SEJARAH LAHIRNYA PEKAN OLAHRAGA NASIONAL (PON) PERTAMA
Pada
tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta telah terbentuk Persatuan Sepakbola
yang bersifat kebangsaan yang bernama Persatuan Sepakraga Seluruh
Indonesia , disingkat PSSI dengan ketuanya Ir. Soeratin Sosrosugondo.
Pembentukan persatuan nasional tersebut merupakan tindakan dari kalangan
bangsa Indonesia, karena ingin mengatur oganisasinya sendiri. PSSI
sejak tahun 1931 menyelenggarakan kompetisi tahunan antar kota/anggota,
dan tidak ikut serta dalam pertandingan-pertandingan antar kota yang
diadakan oleh Belanda.
Berkat perkembangannya yang baik, pada
tahun 1938 pihak Belanda melalui persatuan sepakbolanya, Nederlandsch
Indische Voetbal Unie (NIVU) mengadakan pendekatan dan kerjasama dengan
PSSI. Jejak sepakbola ini dituruti oleh cabang olahraga Tennis dengan
berdirinya Persatuan Lawn tennis Indonesia (PELTI) pada tahun 1935 di
Semarang. Berkedudukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia), pada
tahun 1938 lahirlah Ikatan Sport Indonesia dengna singkatan ISI,
satu-satunya badan olahraga yang bersifat nasional dan berbentuk
federasi. Maksud dan tujuannya adalah untuk membimbing, menghimpun dan
mengkoordinir semua cabang olahraga, antara lain PSSI, PELTI dan
Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI), yang didirikan pada
tahun 1940. ISI sebagai koordinator cabang-cabang olahraga pada tahun
1938 pernah mengadakan Pekan Olahraga Indonesia , yang dikenal dengan
nama ISI – Sportweek, pekan olahraga ISI.
Serangan Jepang
secara mendadak pada tanggal 8 Desember 1941 terhadap Pearl Harbour
(Pelabuhan Mutiara) menimbulkan perang Pasifik. Dengan masuknya Jepang
ke Indonesia pada bulan Maret 1942, ISI oleh sebab berbagai kesulitan
dan rintangan, tidak bisa menggerakkan aktivitasnya sebagaimana
mestinya. Pada zaman Jepang gerakan keolahragaan ditangani oleh suatu
badan yang bernama GELORA, singkatan dari Gerakan Latihan Olahraga ,
yang terbentuk pada masa itu. Tidak banyak peristiwa olahraga penting
tercatat pada zaman Jepang selama tahun 1942 – 1945, oleh karena
peperangan terus berlangsung dengan sengit dan kedudukan tentara Nipon
terus pula terdesak. Dengan sendirinya perhatian Pemerintah militer
Jepang tidak dapat diharapkan untuk memajukan kegiatan olahraga di
Indonesia. Dengan runtuhnya kekuasaan Jepang pada bulan Agustus 1945,
kemerdekaan Indonesia membuka jalan selebar-lebarnya bagi bangsa kita
untuk menangani semua kegiatan olahraga di tanah air sendiri.
Kegiatan-kegiatan ini pada awal kemerdekaan belum dapat digerakkan
sepenuhnya, disebabkan perjuangan bangsa kita dalam mempertahankan dan
menegakkan kemerdekaan yang baru direbut itu, mendapat cobaan dan ujian.
Sebagai akibatnya timbullah pertempuran di berbagai tempat, yang
menjadi penghalang besar dalam mengadakan aktivitas keolahragaan secara
tertib dan teratur. Namun demikian, berkat usaha keras para tokoh
olahraga kita, pada bulan Januari 1946, bertempat di Habiprojo di kota
Solo diadakan kongres olahraga yang pertama di alam kemerdekaan.
Berhubung dengan suasana pada masa itu, hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh
olahraga dari pulau Jawa saja.
Kongres tersebut berhasil
membentuk suatu badan olahraga dengan nama Persatuan Olahraga Republik
Indonesia (PORI) dengan susunan pengurus sebagai berikut :
Ketua Umum : Mr. Widodo Sastrodiningrat
Wakil Ketua Umum : Dr. Marto Husodo
Sumali Prawirosoedirdjo
Sekretaris I : Sutardi Hardjolukito
Sekretaris II : Sumono
Bendahara I : Siswosoedarmo
Bendahara II : Maladi
Anggota : Ny. Dr. E. Rusli Joemarsono
Ketua Bagian Sepakbola : Maladi
Ketua Bagian Basketball (sementara) : Tonny Wen
Ketua Bagian Atletik : Soemali Prawirosoedirdjo
Ketua Bagian Bola Keranjang : Mr. Roesli
Ketua Bagian Panahan : S. P. Paku Alam
Ketua Bagian Tennis : P. Sorjo Hamidjojo
Ketua Bagian Bulutangkis : Sudjirin Tritjondrokoesoemo
Ketua Bagian Pencak Silat : Mr. Wongsonegoro
Ketua Bagian Gerak Jalan : Djuwadi
Ketua Bagian Renang (semengara) : Soejadi
Ketua Bagian Anggar/Menembak : Tjokroatmodjo
Ketua Bagian Hockey : G. P. H. Bintoro
Ketua Bagian Publikasi : Moh. Soepardi
Dalam
kongres ini mulanya dimajukan dua nama lainnya, yang akan diberikan
kepada badan olahraga yang bakal dibentuk itu, yaitu ISI dan GELORA.
Keduanya tidak terpilih dan sebagai kesimpulan rapat, diremikanlah
berdirinya PORI dengan pengakuan Pemerintah, sebagai satu-satunya badan
resmi persatuan olahraga, yang mengurus semua kegiatan olahraga di
Indonesia. Fungsinya sama dengan ISI.
Sesuai dengan fungsinya,
PORI adalah juga sebagai koordinator semua cabang olahraga dan khusus
mengurus kegiatan-kegiatan olahraga dalam negeri. Dalam hubungan tugas
keluar, berkaitan dengan Olimpiade dan International Olympic Committee
(IOC), Presiden R.I. telah melantik Komite Olympiade Republik Indonesia
(KORI) yang diketuai oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan berkedudukan di
Yogyakarta.
Bagi Indonesia telah tiba saatnya untuk menempuh
langkah-langkah seperlunya, agar negara kita dapat ikut serta di
Olimpiade – London pada tahun 1948. Olimpiade yang ke 14 ini adalah yang
pertama setelah perang dunia kedua usai dan sejak tahun 1940 terpaksa
ditiadakan selama delapan tahun. Usaha Indonesia untuk mendapat tiket ke
London banyak menemui kesulitan. Setelah agresi pertama dilancarkan
Belanda pada tanggal 21 Juli 1947, Sutan Syahrir dan Haji Agus Salim
terbang ke Lake Succes dan di forum Internasional (baca Sidang Umum PBB)
kedua negarawan dan diplomat ulung ini dengan gigih memperjuangkan
pengakuan dunia atas kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
PORI
sebagai badang olahraga resmi di Indonesia belum menjadi anggota,
International Olympic Committee (IOC), sehingga para atlet yang bakal
dikirim tidak dapat diterima berpartisipasi dalam peristiwa olahraga
sedunia. Pengakuan dunia atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang
belum diperoleh pada waktu itu menjadi penghalang besar dalam usaha
menuju London. Paspor Indonesia tidak diakui oleh Pemerintah Inggris,
bahwa atlet-atlet Indonesia bisa ikut ke London dengan memakai paspor
Belanda, tidak dapat diterima, karena kita hanya mau hadir di London
dengan mengibarkan Dwi Warna Sangsaka Merah Putih. Alasan yang disebut
belakangan inilah juga menyebabkan rencana kepergian beberapa anggota
pengurus besar PORI ke London menjadi batal.
Masalah ini telah dibahas oleh konferensi darurat pada tanggal 1 Mei 1948 di Solo.
Mengingat
dan memperhatikan pengiriman para atlet dan beberapa anggota pengurus
besar PORI ke London sebagai peninjau tidak membawa hasil seperti
diharapkan semla konferensi sepakat untuk mengadakan pekan olahraga,
yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus/September 1948 di Solo.
PORI ingin menghidupkan kembali Pekan Olahraga yang pernah diadakan ISI
pada tahun 1938, terkenal dengan nama ISI sportweek, Pekan Olahraga
ISI. Kongres olahraga pertama diadakan di Solo pada tahun 1946 yang
berhasil membentuk PORI.
Ditilik dari penyediaan sarana
olahraga, Solo dapat memenuhi persyaratan pokok, dengan adanya stadion
Sriwedari serta kolam renang, dengan catatan Sriwedari pada masa itu,
termasuk yang terbaik di Indonesia. Tambahan pula pengurus besar PORI
berkedudukan di Solo dan hal-hal demikianlah menjadi bahan-bahan
pertimbangan bagi konferensi untuk menetapkan kota Solo sebagai kota
penyelenggara Pekan Olahraga nasional Pertama (PON I) pada tanggal 8 s/d
12 September 1948.
Dengan mengemukakan hal-hal yang telah
diuraikan di atas, kota Solo jelas telah menulis suatu riwayat di bidang
olahraga dan hal ini akan terpatri sepanjang masa dalam sejarah bangsa
Indonesia. Menggembirakan, karena juga di bidang lain, kota Solo telah
menulis riwayatnya. Komponis terkenal Gesang, telah menggubah sebuah
lagu, yang sangat laris pada zamannya, Bengawan Solo, riwayatmu ini.
Kota Solo dengan berbagai riwayatnya telah menjadi kota kenangan, harus
selalu dikenang, baik di bidang olahraga, maupun di bidang kesenian dan
kebudayaan
Maksud dan tujuan penyelenggaraan PON I adalah
untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa bangsa Indonesia, di
tengah-tengah dentuman meriam, dalam keadaan daerahnya dipersempit
sebagai akibat Perjanjian Renville, tegasnya dalam keadaan darurat,
masih dapat membuktikan, sanggup menggalang persatuan dan kesatuan
bangsa, yang berbeda-beda suku dan agamanya, akan tetapi tetap bersatu
kokoh dalam Bhinneka Tunggal Ika. Disadur dari http://www.koni.or.id
Urutan Tahun Provinsi Kota
I 1948 Jawa Tengah Solo
II 1951 Jakarta Jakarta
III 1953 Sumatera Utara Medan
IV 1957 Sumatera Selatan Makasar
V 1961 Jawa Barat Bandung
VI 1965 Jakarta Jakarta
VII 1969 Jawa Timur Surabaya
VIII 1973 Jakarta Jakarta
IX 1977 Jakarta Jakarta
X 1981 Jakarta Jakarta
XI 1985 Jakarta Jakarta
XII 1989 Jakarta Jakarta
XIII 1993 Jakarta Jakarta
XIV 1996 Jakarta Jakarta
XV 2000 Jawa Timur Surabaya
XVI 2004 Sumatera Selatan Palembang
XVII 2008 Kalimantan Timur Samarinda